Aku memang hidup
dikeramaian. Kamu menemukanku di dalam kerumunan manusia-manusia lain. Sebelum
aku mengetahui tentangmu, semuanya memang tak ada yang spesial. Hingga waktu
itu datang. Semuanya berubah menjadi sempurna. Entah ada faktor apa, aku belum bisa
menemukannya. Tapi satu hal yang harus kamu tau, kamu segalanya di hidupku.
Terkesan berlebihan, namun memang itu yang aku rasakan sekarang. Terlebih, saat
kamu memilih pergi dari lembaran hidupku.
Rindu :’) |
Aku tak bisa lupa dengan semuanya, tak bisa menghapus memory indah ini. Apa
kamu tak bisa memahaminya? Sulit, sangat sulit.
Tolong pahami ini :’). Aku tau
ini hal mudah bagimu, iya kan? Tapi itu tidak untukku sayang :’)
Memory :’) |
ingin rasanya mengulang kembali. Tapi ada satu masalah di sini, kamu telah
mengusirku. Menendangku dari hidupmu. Meleparku dari ceritamu. Menghempaskanku
bersama memory ini. Kenapa harus aku yang menyimpannya? Aku selalu tergoda
untuk membukanya. Tak bisakah kamu menyimpan sebagian dari kenangan kita? Ah
maaf, aku tau kamu sudah tak sudi.
Banyak
lelaki datang, berusaha menjadi hal penting di hidupku. Ada beberapa yang
menarik perhatianku, tapi tak bisa mengubah rasa yang sudah terlanjur nyaman
menetap di benak ini. Tak pernah aku menemukan sosok yang bisa menggantikan
dirimu. Atau memang kau tak bisa terganti? Sayang, kenapa Tuhan harus
menggoreskan cerita seperti ini di antara kita? Tak bisakah, cerita ini ditukar
dengan cerita yang membuatku selalu tersenyum?
Kini, kau
mengembalikanku di tempat asalku, dikeramaian. Aku berdiri di tengah-tengah
kerumunan manusia yang berlalu-lalang bersama kebahagiaan mereka masing-masing.
Aku merasa sepi, sendirian meskipun di tengah keramaian. Tak ada yang menemani.
Saat
semuanya memang harus dilupakan, aku berusaha melupakan. Tapi mengapa kamu
selalu muncul dihadapanku, saat aku sudah benar-benar mengetahui arti tegar. Bukan
salahmu, ini salah perasaanku yang masih menyisakan ruang yang tak pantas kau
tinggali. Ruang ini terlalu berantakan, penuh memory yang berserakan dan belum
ku susun rapi. Maaf, aku masih mengikatmu dengan rasa sayang yang bodoh ini. Maafkan
aku :’)
0 comments:
Post a Comment