Kenapa kamu tidak bisa benar-benar enyah dari hidupku? Kamu
selalu saja terselip di setiap memory yang aku punya. Kamu pernah bersuara, “Aku
telah melepasmu”. Kamu pernah bersuara, “Aku sudah tak pernah mengingatmu”.
Di setiap pertemuan pandangan mata kita, semuanya masih
terlihat sama. Tatapan bola matamu, lengkungan bibirmu, sapaan hangatmu,
mengisyaratkan semuanya akan baik-baik saja, atau mungkin akan kembali ke
cerita nostalgia kita.
Tiba-tiba kalimat tanya ini muncul dibenakku. “Alur cerita macam apa yang kamu buat? Apa kamu sekedar menawarkan sebuah harapan, yang nanti akan ku gapai dengan senyum sejuta kebahagiaan namun tiba-tiba
kau lupakan
begitu saja?” Itu menyakitikan.
*menunggu* Entah kamu yang sengaja memberikan kepalsuan,
atau aku yang terlalu belebihan menanggapi semua tingkahmu. Tapi yang pasti,
ini membingungkan. Apa kamu tidak mempunyai pekerjaan lain, selain bertingkah
seolah-olah kamu akan kembali kedekapanku lagi? Jangan suka berpura-pura kalau
jadi lelaki.
Di detik ini, aku mengetahui semuanya. Semua kepalsuan tingkahmu yang membingungkan.
Hah ! Merasa bodoh, merasa dibodohi.
Pasti. Malu rasanya aku telah berharap tinggi.
Salahku yang terlalu beranggapan lebih, dari sikap tak
jelasmu itu. Masa bodoh! Terimakasih, kamu mengajariku menjadi wanita
yang tak mudah dibodohi oleh lelaki pemberi kepalsuan, lelaki macam dirimu.
Untukmu, silahkan pergi.
Pintu itu sudah aku buka sejak tadi. .jpg)
0 comments:
Post a Comment