Apa salahku jika aku menolak untuk menghilangkan rasa yang
aku anggap nyaman terhadapmu? Hei, ini perasaanku sendiri. Aku tau bagaimana
cara untuk menikmatinya. Jangan anggap kau menyakitiku. Aku tak pernah menganggapmu
sebagai seorang “berengsek” dalam hidupku, meskipun semua orang menganggapmu
macam itu. Anggap penting omonganku saja, hiraukan mereka.
Aku pernah berjanji satu hal kepadamu, “aku gak bakalan
nyari pengganti sampai saatnya tiba nanti”. Tenanglah, kau tak peru khawatir
aku akan menjilat perkataanku sendiri. Aku akan tetap setia bersamamu, meskipun
kau menganggap aku sudah tak memiliki arti.
Mungkin kau sudah melupakanku, bahkan sudah menganggapku
sebagai masa lalu yang tak perlu kau ungkit
lagi. Tak apa. Anggaplah aku
seperti itu, memang hanya pantas dijadikan kenangan. Aku akan tetap bahagia
melihatmu. Entahlah.
Kau mudah mencari pengganti, mungkin kau tak pernah menaruh
terlalu dalam perasaanmu terhadapku. Seharusnya aku menjadi plagiat-mu, agar
relung yang ada tak terlalu dalam. Tapi mau apa, semua sudah terlanjur terjadi.
Sudahlah, ini bukan hal penting lagi bagimu. Mungkin kau
sudah beranggapan seperti itu sejak dulu. Oke, semuanya sudah tidak penting.
Tak ada lagi yang perlu kau ungkit. Biar aku sendiri yang tersenyum mengenang
semuanya. Ini urusanku.

0 comments:
Post a Comment